Touring

JELAJAH BANTEN, MENGUNJUNGI MUSEUM KESULTANAN BANTEN

Provinsi Banten adalah salah satu Provinsi yang terdekat dengan Ibukota Jakarta. Provinsi ini memiliki sejarah yang cukup unik, namun sebagian besar orang mungkin tidak tahu tentang sejarah Banten. Wajar, di buku sejarah pun, sejarah Banten lama tidak populer. Maka dari itu teman-teman dari Tangerang R15 Owners menjadikan agenda Touring Wajib untuk mengeksplorasi wilayah Banten.

Ada tiga wilayah yang menjadi target Touring Wajib TROW kali ini, yaitu Banten Lama, Gunung Pulosari dan Wisata Air Panas Cisolong. Perjalanan pertama kita kali ini ke Banten Lama, sebuah daerah yang dahulu kala menjadi pusat atau kota pemerintahan Banten atau tepatnya Kesultanan Banten.

Kali ini kita coba melihat dekat tentang Museum Kesultanan Banten, namun sayangnya karena kedatangan saya hari Sabtu Museum ini tutup. Jadi kita tidak bisa masuk ke dalam, Museum, namun kita masih bisa melihat koleksi Museum yang berada di area luar.

Di halam depan Museum ini langsung bisa kita dapati Meriam Ki Amuk. Sebuah Meriam besar yang melegenda bagi orang Banten. Meriam seberat 7 Ton dan sepanjang 341 cm ini memiliki dua cerita dari tradisi yang berbeda. Meriam ini juga sebagai simbol religi dan keimanan. Dimana ada dua inskripsi yang mengajarkan tentang kebaikan, keselamatan dan ajal.

Di samping meriam ada 12 batu Prasasti, pada batu tersebut terdapat tulisan dalam bentuk huruf China atau Jepang. Saya tidak tahu pasti tulisan dalam bahasa apa itu, namun melihat ada sejarah China pada Banten Lama ini, saya punya keyakinan tulisan pada prasasti tersebut adalah huruf China. Yang disayangkan tidak ada penjelasan tertulis tentang 12 Prasasti tersebut. Mungkin jika ada yang mengerti dan menterjemahkannya bisa hubungi saya.

Setelah dua peninggalan bersejarah tersebut, terdapat beberapa peninggalan sejarah seperti puing atau runtuhan dari sebuah petilasan dan juga ada dua petilasan lain. Yang pertama adalah Batu Tempa, sebuah pijakan yang konon pada jaman Kesultanan Banten digunakan dalam pembacaan pengumuman atau woro-woro. Dan yang kedua adalah Batu Singayasa, rangkaian beberapa batu yang digunakan saat pengambilan sumpah.

Peninggalan sejarah ini sungguh berharga, namun sayangnya kurang perawatan. Beberapa papan informasi sudah tidak bisa dibaca atau rusak. Selain penempatan dan cara penyimpanan benda bersejarah itu harus diperbaiki dan dirapihkan. Bagaimana jika nanti benda-benda pusaka yang merupakan kekayaan bangsa ini menjadi rusak dan hilang tak berbekas. Bagaimana anak cucu kita nanti bisa tahu akan sejarah Banten.

Semoga ada pihak yang melihat kondisi dan peduli peninggalan sejarah tersebut. Peran pemerintah akan pelestarian ini juga harus intensif. Bukan untuk dilestarikan, ini juga menjadi wisata sejarah yang sangat mendidik. Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s